Pedagang Salak Semprul

salakPostingan ini tidak dimaksudkan untuk offense kepada para pedagang salak. Oleh karena itu, sebelumnya saya minta maaf atas judul di atas. Judul tersebut dipilih semata-mata untuk memenuhi kaidah pembuatan judul sebuah artikel: singkat, padat dan attraktif!😉. Pengalaman ini saya alami sendiri. Pengalaman yang unik, menggemaskan, menggelikan, menjengkelkan, dan entah perasaan apa lagi.

Hari Kamis pagi (26 Desember 2008) usai sholat shubuh saya bergegas keluar dari kost-an menuju terminal bis Kampung Rambutan, ya, saya bermaksud pulang ke kampung halaman, Tegal. Sampai di terminal kampung rambutan pkl. 06.00 WIB saya sempatkan ke mushola, ambil wudhu dan sholat sunnah wudhu.

Usai itu, saya langsung menuju ke pelataran terminal terminal-kp-rambutan1bis antar kota antar propinsi (AKAP), alhamdulillah, bis Sinar Jaya Jakarta-Purwokerto masih nge-jogrog (stand by) di sana. Seperti biasa, saya pun segera dihampiri calo-calo sambil menanyakan, “ke mana mas?”, “Sinar Jaya mas”, jawabku santai. Lohh, gak nyambung kan pertanyaan ama jawabannya, ya, ya, tenang dulu kawan-kawan, itu adalah cara saya keluar secepat mungkin dari “kejaran” calo-calo bis. Kenapa jawaban saya Sinar Jaya? karena bis inilah bis idola saya,😉. Ya, begitulah, saya pun akhirnya dihampiri calo berseragam bertuliskan “PO. Sinar Jaya” di atas saku bajunya. Dia tanya, “ke mana mas”, “slawi, Tegal”, jawabku. Ia pun segera mengantarku ke bis Sinar Jaya Jakarta-Purwokerto (kelas ekonomi) yang akan segera berangkat (bis dengan trayek Jakarta-Purwokerto pasti melewati Slawi). Sayapun bayar tiketnya 35 ribu dan segera mencari tempat duduk, alhamdulillah masih ada, saya dapat tempat duduk tepat di atas roda bis bagian belakang sebelah kiri.

Singkat cerita, sekitar pkl.06.30 WIB kami (saya dan para penumpang lainnya di bis yang sama) pun mulai berangkat keluar dari terminal menuju Jawa Tengah.

Nah, ini nih cerita intinya.

Segera setelah keluar dari tol cikampek, bis yang saya tumpangi “dimasuki” oleh seorang bapak-bapak (usia 40 an kale ya..) pedagang salak. Awalnya seperti biasa, “perkenalan” dan doa yang dipanjatkannya untuk para hadirin (manusia2 yg ada di bis-red).

Berikut ini para pelaku utama dalam cerita ini:

Pedagang Salak = PS
Seorang Pemuda Bukan Saya = SP
Saya = S
Seorang Pemuda Yang Duduk Di Samping Saya = X

Mulailah si PS beraksi,

PS: “Bapak, Ibu, ini saya bawakan salak, manis2, 25 buah 15 ribu aja.”

Demikian kira2 tawaran pertama si abang pedagang salak. Kalimat di atas berkali-kali ia tawarkan kepada kami sambil mondar-mandir dari depan ke belakang. Karena kelihatan gak ada yang menggubrisnya. Ia pun menurunkan tawarannya, begini kira2:

PS: “Bapak, Ibu, saya tambahkan salaknya, jadi 30 buah 15 ribu aja, tuh,, sampe hampir penuh keranjangnya.” (kerangjang yang dimaksud adalah keranjang yang ia gunakan untuk membungkus salak yang ia jual)

Demikian kira2 tawaran keduanya. Sama, kalimat di atas berkali-kali ia tawarkan kepada kami sambil mondar-mandir dari depan ke belakang. Karena kembali terlihat tak ada yang menggubrisnya. Ia pun menurunkan tawarannya lagi, begini kira2:

PS: “Bapak, Ibu, saya tambahkan lagi salaknya, jadi 35 buah 15 ribu aja, tuh,, sampe gak muat keranjangnya.”

Nah, kali ini ada si SP yang mulai tergiur dan akhirnya membeli salaknya si PS 1 kantong keranjang alias 15 ribu alias 35 buah salak. Berhubung cuma 1 orang yang tergiur, sambil sedikit memperlihatkan mimik muka yang mengeluh (belakangan saya paham bahwa mimik tersebut hanyalah akal-akalannya dia saja), si PS akhirnya kembali menurunkan tawarannya, kira2 begini:

PS: “Bapak, Ibu, saya tambahkan lagi salaknya, jadi 45 buah 15 ribu aja”.

Ia pun tidak lagi menggunakan keranjang sebagai wadah salaknya namun plastik hitam. Karena dalam hati saya, saya ingin membawa oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga di rumah nanti, tanpa pikir panjang lagi akhirnya sayapun membelinya. Ya, si S membeli 1 kantong salak berisi 45 buah seharga 15 ribu.

Yang mulai membuat saya cemberut gemes adalah ketika kembali si PS menurunkan tawarannya beserta harganya, kira2 begini:

PS: “Bapak, Ibu, saya tambahkan lagi salaknya, jadi 50 buah 10 ribu aja. tuh, 10 ribu se-RW kebagian semua”.

Dalam hati saya mulai senyum-senyum sendiri. Ni PS cerdas juga. Atau,,, saya-nya aja yang terlampau bego?? <kayaknya pilihan kedua deh yang bener.. ;( > Tak berapa lama kemudian, si PS untuk kesekian kalinya menurunkan tawarannya, kira2 begini:

PS: “Bapak, Ibu, saya tambahkan lagi nih salaknya, jadi 60 buah 10 ribu aja. tuh, 10 ribu se-RW kebagian semua. sampe berat banget nih plastiknya.” Kali ini PS juga menawarkan opsi lain:

PS: “Kalo 60 kebanyakan, boleh deh beli 5 ribu aja, alias 30 buah salak”.

Nah, di sini mulai banyak penumpang yang membeli salaknya. Termasuk saya, he3, saya membeli lagi 30 buah. ;p. Dalam hati, ni bagaimana ya perasaannya si SP yang beli salaknya 35 buah seharga 15 ribu? gak tau deh..mungkin jengkel. ;p

X mulai mengatakan sesuatu kepada saya:

X : “Orang dagang di jalan emang gitu mas..”, sambil senyum-senyum merasa menang.
S : “Iya, sebenarnya saya sudah agak paham, tapi saya gak nyangka mas kalo taktiknya seperti ini.”, sambil berdecak gemes. <percakapan tersebut di atas adalah hasil convert dari bahasa jawa ke bahasa indonesia>

Yang bikin jengkel, di sela-sela pamitnya, si PS kembali menurunkan tawarannya, kira2 begini:

PS: “Bapak, Ibu, ayo siapa yang mau, barangkali ada yang mau, sebelum saya turun, 50 buah 5 ribu aja. tuh, 5 ribu se-RW kebagian semua”.

Dalam hati saya berkata, “set dahh, ni PS nggemesin banget yakk..”.

Bahkan, di ujung pintu bis ketika ia akan turun, ia kembali menawarkan dagangannya, kira2 begini:

PS : “5 rebu 60 buah ada yang mau gak??”

Dalam hati kubilang : “dasar pedagang salak semprul…”

12 thoughts on “Pedagang Salak Semprul

  1. 😀, klo bisa belinya pas abangnya dah mau turun dari bis aja, siapa tau dikasih gratis,,, :p

    btw,,, salaknya manis ga ?, ntar dah dipermainin, asem pula salaknya

  2. @faruk,

    alhamdulillah salaknya manis, tapi kata orang rumah sih agak sepet ;(
    hhh, memang udah rejekinya si abang salak ruk..🙂

  3. sama juk,,,, pas gw ke tegal sekian yang lalu juga ada yang dagang salak modus operandinya kayak gitu (buset dah,,, kayak penjahat aja),,,

    apa jangan-jangan pelakunya sama ???

  4. @arif,

    hm,bisa jadi rif bhwa pelakunya sama.🙂
    yah, namanya jg orang usaha. gw akui mmg si pedagang cerdik banget.😉

  5. @ngawag,

    hahaha, iya mas, maca blog kue nggawe weteng lara mas.
    wonge kentir temenanan.. hehe.. *guyon*

    suwun nggo inpone nggih..

  6. Lain kali beli abangnya aja juq…
    Kali aja 10 ribu dapet… mayan khan buat disuruh2 ngangkutin barang2 atw oleh2 gichu..

  7. @lukman,

    sampeyan tuku ora kang??haha..
    aku tegalandong,kantor pemkab ngidul sedurung kambangan.

    sampeyan dukuhlo ya, salam kenal kang lukman.🙂

Monggo Ngomong/ Silakan Komentar/ Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s