surutnya standar keimanan

meniti lorong hidup

dalam melintasi mistar sejarah hidup, kita senantiasa dihadapkan dengan kesenangan dan kesukaran. dalam menitinya ada kalanya kita ‘begitu sholehnya’ sehingga hampir tiap hal yang kita lakukan bernilai pahala. namun ada kalanya pula kita ‘begitu jahatnya’ sehingga hampir tiap hal yang kita lakukan tidak bernilai pahala atau bahkan bernilai dosa.

dua kondisi di atas sering terjadi dalam diri kita, di mana iman kita seakan ‘naik-turun’, labil, yang ditandai dengan ‘banyak-sedikitnya’ amal ibadah kita. namun bukan itu hal utama yang akan jadi fokus tulisan ini. ada satu hal lain, yang juga penting untuk kita perhatikan, yaitu bahwa iman kita juga memiliki suatu standar yang kalau tidak dijaga bisa pula mengalami pasang surut, atau lebih ‘tepatnya’ mengalami surut.

gambarannya sebagai berikut:

seseorang sebut saja HA, tiap harinya ia amat rajin melaksanakan sholat fardhu 5 waktu, membaca ayat quran minimal 1 juz tiap sore, sholat tahajud di tengah malam, shodaqoh tiap jumat, puasa senin kamis, dan sholat dhuha sbelum brngkat ke kantor. ibadah-ibadah tersebut menjadi rutinitasnya sehari-hari, sehingga ia akan merasa ‘ada yang hilang’ dalam hidupnya, ada yang incomplete, bila dalam sehari saja ia tidak melakukan salah satu dari ibadah hariannya di atas entah karena ketiduran usai sholat isya sampai adzan shubuh sehingga tak sempat tahajud, atau kecapean pulang kerja sehingga tak sanggup membaca satu dua ayat quran.

sampai di sini, kita katakan bahwa ia sedang berada pada standar keimanan tertentu.

setelah beberapa waktu berselang, seiring dengan kesibukannya yang bertambah misal di tempat kerja atau bersama kawan-kawan, ia pun satu dua kali ‘absen’ dari rutinitas ibadahnya. misal karena saking sibuknya ia harus berangkat ke kantor lebih dini sehingga tak sempat sholat dhuha, sampai kantorpun tak sempat terpikir untuk sholat dhuha karena amat sibuknya dengan pekerjaannya. berlanjut malam harinya iapun tak sanggup mendirikan sholat tahajud karena kecapean.

satu dua kali ia akan merasakan incomplete karena ‘absen dari rutinitasnya itu’, namun bila hal ini tidak disadari dan dievaluasi, maka suatu  ketika karena sudah ‘terbiasa absen’ itu maka ia akan sampai pada titik akhir yg kemudian ‘memutuskan’ : “..ahh, biarlah aku ngga tahajud dan dhuha, toh cuma sholat sunnah,, yang penting aku masih melaksanakan sholat fardhu 5 waktu..”

sampai di sini, kita katakan bahwa ia berada pada standar keimanan tertentu, yang posisinya tentu tidak berada sama atau bahkan di atas dari standar keimanan sebelumnya.

————————————————————————————-

pasangsurut2

keimanan yang surut bisa diperbaiki sehingga kembali ke kondisi awal atau bahkan lebih tinggi selagi standar keimanan terjaga. namun surutnya standar keimanan akan membuat kecenderungan turunnya keimanan, yang pada akhirnya membawa efek domino kepada makin surutnya standar keimanan, keimanan,  standar keimanan, keimanan, standar keimanan, keimanan,, begitu seterusnya… sedikit demi sedikit.

One thought on “surutnya standar keimanan

Monggo Ngomong/ Silakan Komentar/ Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s